Manajemen Pariwisata Berkelanjutan di Raja Ampat: Implementasi Prinsip Sustainability dan Blue Economy pada Destinasi Wisata Popular
Sumber: IndonesiaBuzz.com
Raja Ampat adalah sebuah kabupaten di Papua Barat Daya, Indonesia. Kabupaten ini berbentuk kepulauan, yang terdiri dari empat pulau utama, yaitu Waigeo, Batanta, Misool, dan Salawati, serta sekitar 1.847 pulau kecil lainnya. Raja Ampat dikenal karena keindahan panorama alam bawah lautnya dan merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia. Terkait dengan hal tersebut, peningkatan popularitas yang terus terjadi mengakibatkan munculnya julukan bagi Raja Ampat sebagai “The Last of Paradise”. Pesona alam yang indah dan kekayaan budayanya menjadikan Raja Ampat sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Wisata Ikonik Raja Ampat
Berikut adalah beberapa wisata yang ikonik di Raja Ampat.
Kabui Passage
Sumber: Islander.io
Kabui Passage merupakan selat yang terletak di antara pulau-pulau kabupaten Raja Ampat. Selat ini dikenal dengan pemandangan dan keanekaragaman hayati bawah lautnya yang luar biasa. Terkait hal tersebut, Kabui Passage menjadi salah satu destinasi populer bagi wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat, terutama bagi penyelam dan snorkeler. Selain itu, panorama alam di sekitarnya, seperti tebing-tebing karst meningkatkan daya tarik destinasi ini.
Desa Wisata Arborek
Sumber: Nabilla Ramadhian, Kompas.com
Desa Wisata Arborek merupakan sebuah desa kecil yang terletak di pulau Arborek, Raja Ampat. Desa ini dikenal terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya yang menakjubkan untuk spot snorkeling dan diving. Selain itu, desa ini juga menawarkan pengalaman budaya lokal, di mana wisatawan dapat berinteraksi dengan masyarakat serta melihat hasil kerajinan tangan, seperti cinderamata dari kerang. Keindahan alam dan pesona budaya menjadikan Arborek sebagai salah satu tujuan wisata utama di Raja Ampat.
Sauwandarek
Sumber: MeridianAdventureDive.com
Sauwandarek merupakan sebuah desa kecil yang terletak di pulau Maswar, Raja Ampat. Desa ini dikenal sebagai destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam bawah laut yang luar biasa, cocok untuk kegiatan wisata snorkeling dan diving. Selain keindahan lautnya, Desa Sauwandarek juga dikenal dengan budaya dan tradisi masyarakat lokal yang ramah, di mana wisatawan mendapatkan pengalaman interaksi serta cara hidup lokal, hingga kerajinan tangan dan cinderamata khas. Hal tersebut menjadikan Desa Sauwandarek sebagai destinasi wisatawan saat ingin menikmati keindahan alam dan kehidupan budaya Raja Ampat secara dekat.
Pulau Misool
Sumber: CimbNiaga.co.id
Pulau Misool merupakan salah satu pulau utama dan terbesar di Raja Ampat. Pulau ini dikenal karena menampilkan labirin batu kapur dengan warna biru turquoise di bagian timur dan baratnya serta menjadi rumah bagi spesies langka, seperti burung cendrawasih. Selain itu, pulau ini menyuguhkan keindahan terumbu karang bawah laut, hutan tropis, dan panorama alam yang menakjubkan. Hal ini menjadikan pulau Misool sebagai salah satu spot menyelam kelas dunia melalui "Misool Eco Resort" dan opsi destinasi utama di Raja Ampat.
Star Lagoon
Sumber: Kemenparekraf dalam INewsPapua
Star Lagoon merupakan objek wisata alam yang terletak di Pulau Pianemo, Raja Ampat. Wisata ini dikenal karena bentuk lautnya yang menyerupai bintang. Dalam upaya melihat pemandangan indah yang dikelilingi pulau-pulau kecil, wisatawan perlu mendaki bukit melalui jalur yang disediakan. Selain itu, air laut yang jernih dan keragaman biota laut, seperti penyu maupun bayi hiu menjadikan Star Lagoon sebagai salah satu opsi spot snorkeling dan diving wisatawan. Keindahan alam dan suasana yang memukau menjadikan objek wisata ini sebagai salah satu destinasi utama saat mengunjungi Raja Ampat.
Implementasi Prinsip Sustainability dan Blue Economy dalam Menciptakan Pariwisata Berkelanjutan
Perkembangan pariwisata Raja Ampat sebagai destinasi populer terus meningkat. Hal ini dapat dilihat melalui peningkatan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara setelah pandemi berakhir, di mana pada 2019 terdapat 5.725 jiwa dan pada 2023 terdapat 19.839 (Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat dalam Badan Pusat Statistik Raja Ampat, 2024). Bahkan sebelum pandemi, kunjungan domestik dan mancanegara Raja Ampat mencapai 46.375 jiwa pada tahun 2019. Selisih tersebut menunjukkan bahwa potensi perkembangan Raja Ampat masih sangat besar dan peluang kenaikan wisatawan pada masa yang akan datang dapat terjadi.
Keberhasilan pariwisata di Raja Ampat tentunya tidak terlepas dari peran masyarakat lokal dan pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan serta produk wisata yang mendukung keberlanjutan. Terkait dengan hal tersebut, upaya pengembangan pariwisata Raja Ampat sebagai pariwisata berkelanjutan, tentunya memperhatikan beberapa prinsip, seperti meminimalisir dampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan, peningkatan kesadaran, pengetahuan, kontribusi masyarakat lokal, dan menghasilkan dampak ekonomi positif untuk keberlanjutan ekonomi lokal. Pemahaman potensi, penjagaan sumber daya alam serta budaya, dan keterlibatan masyarakat lokal secara kooperatif menjadi kunci dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Berikut adalah upaya manajemen pariwisata berkelanjutan melalui acuan prinsip sustainable tourism dengan tiga implementasi strategi yang dilakukan pada destinasi wisata Raja Ampat.
Peningkatan manfaat ekonomi lokal dan penjagaan lingkungan melalui Kartu Jasa Lingkungan (KJL).
Penerapan Kartu Jasa Lingkungan (KJL) Raja Ampat dilakukan dengan pengenaan tarif masuk kepada wisatawan. Tarif ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu tarif untuk kawasan wisata dan tarif untuk pemeliharaan jasa lingkungan. Pengenaan tarif dikelola langsung oleh Dinas Pariwisata dan UPT BLUD (Unit Pelayanan Teknis, Badan Layanan Umum Daerah). Terkait dengan hal tersebut, pengenaan tarif sebesar Rp 500.000 dikenakan untuk wisatawan domestik dan Rp 1.000.000 untuk wisatawan asing, dengan masa berlaku satu tahun. Penerapan KJL ini berkontribusi besar dalam: 1) pengelolaan lingkungan yang mendukung kepentingan pendanaan konservasi serta pemeliharaan sumber daya alam maupun mitigasi dampak dan 2) alokasi pendanaan berbagai kegiatan, seperti pemberdayaan masyarakat, patroli, edukasi, dan penyebaran informasi kepada wisatawan.
Peningkatan partisipasi aktif masyarakat lokal.
Pariwisata Raja Ampat membutuhkan peningkatan partisipasi aktif dari komunitas setempat sebagai salah satu penerapan prinsip sustainable tourism untuk memaksimalkan potensi dan menguntungkan masyarakat lokal. Terkait dengan hal tersebut, pengembangan homestay sebagai tempat tinggal bagi wisatawan menjadi salah satu cara untuk melibatkan masyarakat. Pengembangan sarana dan prasarana homestay memungkinkan masyarakat untuk menjadi pemilik atau investor dalam fasilitas ini yang dilakukan berdasarkan kebijakan serta standar operasional pemerintah. Selain itu, pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan memerlukan pemanfaatan modal keuangan, teknologi, dan lingkungan, serta pemanfaatan potensi alam yang belum dikelola, seperti perikanan, terumbu karang, dan perkebunan. Dengan proyeksi peningkatan jumlah wisatawan hingga 488% pada 2035, kerja sama masyarakat lokal untuk menjaga kelestarian lingkungan, mitigasi dampak negatif, serta pengembangan fasilitas transportasi dan prasarana lainnya menjadi aspek penting dalam mencapai pariwisata berkelanjutan.
Pemanfaatan potensi wisata laut dengan blue economy.
Konsep blue economy adalah upaya pembangunan ekonomi dengan menyeimbangkan pemaksimalan manfaat sumber daya laut dengan pengelolaan lingkungan dengan optimal. Dalam hal in, Raja Ampat menerapkan berbagai upaya, salah satunya adalah Festival Bahari Raja Ampat pada tanggal 21-22 November 2020. Festival ini digelar secara virtual dengan menampilkan destinasi wisata melalui video internet. Terkait dengan hal tersebut, diperlihatkan 10 video destinasi wisata, perkenalan cendera mata khas yang terbuat dari kerang, dan informasi mengenai lomba yang biasanya dilakukan terkait destinasi wisata Raja Ampat. Kegiatan wisata di Raja Ampat memanfaatkan potensi keindahan laut dan kelimpahan sumber daya alamnya.
Kesimpulan
Raja Ampat, sebagai salah satu destinasi populer di Indonesia perlu menjaga keindahan alam dan kesejahteraan masyarakat lokal untuk mampu menjadi destinasi berkelanjutan. Perkembangan dan daya tarik alam pada destinasi Raja Ampat bahkan diprediksi akan berkontribusi dalam meningkatkan jumlah wisatawan hingga 488% pada 2035. Dalam menjaga keberlanjutan pariwisata Raja Ampat, pemerintah perlu memperhatikan pengenalan potensi, penjagaan sumber daya alam serta budaya, mitigasi dampak, dan keterlibatan masyarakat lokal. Terkait dengan hal tersebut, manajemen pariwisata berkelanjutan pada Raja Ampat diterapkan dengan implementasi prinsip sustainability dan blue economy, yaitu 1) peningkatan manfaat ekonomi lokal dan penjagaan lingkungan melalui Kartu Jasa Lingkungan (KJL), 2) peningkatan partisipasi aktif masyarakat lokal, dan 3) pemanfaatan potensi wisata laut dengan blue economy. Upaya ini dilakukan dalam tujuan menjadikan serta mempertahankan Raja Ampat sebagai destinasi wisata Indonesia yang berkelanjutan pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Pantesan Raja Ampat selalu asrii yaa lingkungannya padahal jadi destinasi yg udh terkenal dari dulu, ternyataa ada manajemen pariwisata berkelanjutannyaa 👍🏻👍🏻 Mantapp
ReplyDeleteRaja Ampat memang sangatlah indah ya!! selalu banyak yang minat
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeletekeren pembahasannya dikaitin blue economy,, sangat informatif!
ReplyDelete